|
 |
| |
Thursday, September 28, 2006 |
Lagi semangat2nya untuk posting karena koneksi internet yang sangat cepat, eh kena deh penyakit ini. Mulai terasa ga enak badan sejak Rabu malam, 20 September yang lalu. Badan lemaaasss, otot dan sendi terasa nyeri dan ngilu gitu. Pikir kecapek-an aja, soalnya pulang dari internship langsung deh marathon ngajar, plus ganti puasa Ramadhan kemarin yang masih tinggal 6 hari (tahun lalu dapat disekitar hari pertama dan hari terakhir, ya udah pasti tinggal banyak deh )
Jadi lemas & nyeri2 gitu nikmati aja dan tetap ke kampus, sambil mikir paling juga kalo ganti puasanya selesai Jumat ntar baikan lagi. Apalagi kalo udah dibawa tidur, biasanya bangun2 semua penyakit hilang deh. Tapi ternyata rasa itu ga hilang2 dan mencapai puncaknya Sabtu siang besoknya.
Jadi rencana awalnya tuh, abis Seminar Kerja Praktek mahasiswa, sorenya mau langsung mudik atau pulkam untuk 'megang' puasa pertama bersama Ibu dan keluarga di Majene. Tapi apa daya, siang itu tiba2 demam tinggi, badan panass sekali sementara kaki terasa dingin. Itu terasa pas lagi ngutak-ngatik blog untuk ngedit header sebelum pulang ke rumah. Ya udah pulang aja trus, takut ntar kenapa2, soalnya kampus juga udah mulai sepi & mahasiswa yang tinggal ga seberapa lagi. Ga perhatiin lagi header blognya seperti apa, jadi maklum aja kalo headernya pasti ga beraturan gitu.
Nyampe rumah langsung masuk kamar dan berselimut. Panas badan makin tinggi, dan karena ga tahan lagi telpon Kak Chia di kampung nanyain kalo panas gini minum obat apa. Saya tuh paling malasss dan alergi untuk pergi ke dokter, kalo masih bisa tahan ya ga bakal pergi deh. Alhamdulillah, kebetulan punya kakak dokter, yang tau kondisi badan & kesehatan saya dari dulu, jadi kalo kena sakit ga menderita2 kali gara2 malasnya itu. Apalagi Minggu besok kan udah mulai puasa.
Jadilah minta ponakan cariin obat itu ke apotik dekat rumah. Abis minum obat, sekitar jam 8 malam terasa udah baikan lagi dan iseng2 bercermin. Eh, tiba2 lihat di leher ada muncul spot, kayak jerawat gitu tapi berair. Pertama belum nyadar apa itu, tapi pas sahur muncul lagi di daerah lengan dan abdomen, mulai mikir jangan2 Chickenpox. Teringat Mbak Rani pemilik 'Rumah Kecil di Tepi Sungai Thames' pernah ngulas lengkap about chickenpox, pas link kesana dan baca sign&sympton-nya, semakin percaya saya lagi kena penyakit ini. Apalagi Kak Salwa juga bilang iya, kena cacar air itu.
Cuma masih ada rasa ketidakpercayaan apa ini benar chickenpox atau tidak, sampai telpon Kak Suri nanyain saya udah pernah kena cacar air atau ga, dan dijawab pernah waktu saya kelas 2 SD, sekitar 23 tahun yang lalu. Ga percaya aja, soalnya dari yang saya dengar kalo orang tuh cuma kena cacar air sekali seumur hidup, & diperkuat postingan Rani yang saya quote berikut :
"A person usually has only one episode of chickenpox in his or her lifetime. Chickenpox is very contagious - if exposed to an infected family member, about 80% to 90% of those in a household who haven't had chickenpox will get it. Although it's more common in kids under the age of 15, anyone can get chickenpox."
Pas ricek lagi ke Kak Chia, kakak bilang itu bisa aja terjadi, apalagi jika kondisi badan tidak stabil atau pertahanan tubuh yang lagi menurun. Apalagi sekarang di Makassar dan sekitarnya, emang lagi banyak tuh yang kena sakit ini. Saya ga bilang mewabah, soalnya belum sampai kayak DBD kemarin, dimana banyak yang meninggal dan rumkit2 di Makassar sampai penuh dengan penderita DBD ini.
Sekarang, lagi proses pengobatan nih. Disamping pake obat yang dikasih kakak, sama dengan yang disarankan Rani, minus antibiotik (kata Kakak, antibiotiknya nanti aja 3-4 hari berikutnya), juga dengan menggunakan obat tradisional. Ini setau saya kebiasaan di Sulawesi aja, entah daerah lain ada atau tidak.
Jadi untuk mempercepat keluarnya 'spot', saya juga minum 'Kasumba Tarate', semacam serbuk bunga dari suatu tanaman yang udah dikeringkan. Cuma saya ga tau persis nama tanamannya dan asal muasal nama Kasumba Tarate itu. Kalo kata kakak&ponakan itu serbuk bunga teratai, dari 'Tarate' yang udah dibahasa daerah-kan, tapi ga yakin juga sih. Cuma mikir nama 'Kasumba' itu pasti berasal dari warna serbuknya yang campuran orange kemerah2an.
Jadi bunga itu bisa dimasak dengan air, kira2 gelas belimbing gitu, atau bisa juga bunga ditaruh di gelas, trus siram dengan air yang baru mendidih, dinginkan dan minum. Airnya sih ga berasa apa2, kayak minum fresh water aja. Ini bisa diminum sebanyak2nya, cuma sekarang karena lagi puasa paling bisa 3-4x, hampir sama dengan aturan minum obat dokter. Pas abis minum itu, langsung deh 'spot' dimana-mana. Tapi sekarang udah mending, karena badan udah enakan, cuma spot2 itu aja yang bikin ga bisa kemana-mana
Mudah2an ini cepat berakhir deh. Paling tidak bisa ambil hikmahnya, jadi bisa istirahat lama nih dirumah tanpa merasa berdosa ga ke kampus meski kerjaan banyak..
Update :
Alhamdulillah sekarang jauh jauh lebih baik. Udah bisa ke mall, udah bisa ke kampus,
udah bisa kemana-mana meskipun masih dalam perawatan buat ngilangin 'spot' nya
nih. Dan perawatannya pake cara tradisional lagi, pake bedak dingin 'jagung muda parut'.
Posted at 03:10 pm by nisakalondeng
Permalink
| |
Friday, September 22, 2006 |
Selamat Menyambut Ramadhan
Tak terasa waktu berlalu (baru juga abis ganti puasa yang tinggal Ramadhan kemarin )
dan seiring dengan berjalannya waktu, Ramadhan udah di ambang pintu lagi. Bulan penuh rahmat & ampunan sudah di depan mata…
Dengan segala kerendahan hati saya ingin mengucapkan :
" Mohon Maaf Lahir & Bathin ya buat semua..
Semoga Allah SWT mengampuni dosa2 kita dan memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga dapat mengisi bulan Ramadhan ini dengan amalan2 yang lebih baik dari tahun2 sebelumnya dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa memberkati kita dengan ketulusan dan kebahagiaan dunia-akhirat, Amien…"
Dan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ya bagi yang menjalankannya…...
Posted at 02:48 pm by nisakalondeng
Permalink
| |
Thursday, September 21, 2006 |
Begitu nyampe Makassar lagi abis magang di Bogor Senin 11 September dinihari, paginya
udah langsung masuk kampus untuk bikin persiapan ngajar siangnya. Dan
begitu menginjakkan kaki lagi di kampus, o la la... ternyata begitu
banyak perubahan yang terjadi sejak saya tinggalkan ±2 bulan yang lalu Gak nyangka sih, abis biasanya jarang terjadi perubahan dalam waktu sesingkat itu di UNHAS. Beberapa fakta yang nyata terlihat : |
 | *
UNHAS yang dulunya kumuh, saking banyaknya sampah berserak dimana-mana,
sekarang tampak lebih bersih dan terdapatnya tempat sampah 'Three
Colours' di UNHAS. Kenapa 3 warna, karena sampahnya dibedakan untuk
sampah plastik (Kuning), sampah kering & kertas (Merah), dan sampah
basah/organik (Hijau). |
* UNHAS yang saya tinggalkan 2 bulan yang lalu tampak kusam, begitu
juga dengan RAMSIS (Asrama Mahasiswa-red) dan Wisma Tamu, serta banyak
jalan2 bolong dipelataran tengah kampus, dipelataran belakang dekat
parkiran, dan depan RS. Wahidin, sekarang
semuanya lebih kinclong dan jalan2nya mulus bo'. Ini terlihat dari
renovasi besar2an di UNHAS,dan masih berlanjut sampai sekarang, dimana
lantai dasar yang dulunya semen biasa, sekarang udah pake keramik semua
(kabarnya, ini juga akan dilakukan secara bertahap ke Lt.1-Lt.5).
RAMSIS dan Wisma Tamu kabarnya juga ganti manajemen, supaya bisa
difungsikan dengan pelayanan yang lebih berkualitas. *
Jalan masuk UNHAS, baik lewat Pintu I maupun II yang dulunya biasa2
aja, sekarang tampak lebih apik dan tertata rapi. Perubahan di Pintu I
yang terlihat sangat nyata, dimana sudah ada pagar dan gerbang yang
tertata rapi, trotoar yang mengalami perubahan tatanan, dan ada tanaman
tertata rapi disepanjang jalan masuk UNHAS. *
Di perempatan Rektorat-PKM-Jln ke RS. Wahidin-Jln ke luar Pintu I,
selain lebih apik dan rapi, juga ditengah2nya itu dibangun sebuah Tugu.
Cuma belum jelas apa 'makna' dibangunnya tugu itu. Trus udah ada dibuat
jalur sendiri yang khusus untuk 'pete-pete' kampus, sedangkan kendaraan
pribadi tetap lewat jalan yang biasa.
*
UNHAS yang dulunya terkenal dengan julukan 'Kampus Merah', karena
melihat kemana2 mulai dari atap, tiang, pagar-pagar pembatas, kusen2
pintu dan jendela yang semuanya merah, tampaknya sekarang harus ganti
julukan dengan 'Kampus Abu-Abu', karena dominan warna itu, meskipun
dikit2 masih terlihat juga warna merah. * UNHAS yang dulu kabarnya banyak menghabiskan dana untuk pembangunan fisik seperti di atas, namun pembangunan itu tidak pernah
nampak alias ada perubahan. Sedangkan sekarang, terjadi perubahan fisik
besar2an, yang kalo dipikir2 pasti menghabiskan dana paling tidak
milyaran rupiah (mengingat UNHAS yang seluas itu, dengan 12 Fakultas
dan 1 Politeknik dan rumkit yang ada didalamnya), ternyata tidak
menyentuh dana UNHAS se-senpun, alias semua didanai oleh Sponsor (Saya
juga lagi mikir2 siapa gerangan 'sponsor' yang begitu baik hati itu???) *
Rektor UNHAS dulu belum pernah dari Kedokteran, sedangkan sekarang bisa
terwakili begitu mantan Dekan FK ini terpilih sebagai Rektor UNHAS
periode 2005-2010. Mungkin itu juga salah satu sebab perubahan UNHAS yang jadi lebih bersih dan tertata apik sekarang ya . *
Rektor yang dulu ga pernah SIDAK ke fakultas/jurusan atau langsung ke
kelas saat pelajaran berlangsung bahkan ke kantin2 yang ada dalam
UNHAS, tapi yang sekarang siap2 aja untuk dapat 'kunjungan' tanpa
pemberitahuan lebih dulu. *
Manajemen pembiayaan dan tatacara pembayaran honor pegawai di UNHAS
yang dulu tidak ditangani dengan bagus, sekarang lebih ditertibkan
dengan mengacu pada format dari KPKN (Kantor Kas&Perbendaharaan
Negara). * Nah, ini yang terpenting Dulu koneksi internet lewat server PIU
(Pusat Informasi UNHAS) begitu lambat, bisa tidur dulu deh kalo akses
internet untuk searching & browsing (makanya suka malas kalo
nge-net dari kampus, meskipun dalam hati udah niat untuk buka imel or
updet blog *alasan aja ), tapi sekarang... cepat bo'. Satu kali klik, seperti ga berkedip dan dalam satu tarikan napas, udah deh langsung terbuka Makanya sekarang rajin deh nungguin lab & betah sampai malam di kampus. & juga jadinya rajin posting (asal ga kumat aja penyakit malasnya ) * Dan masih banyak lagi deh perubahan lainnya yang susah diuraikan dengan kata-kata... Yeah,
berharap aja sih ini bukan perubahan dipermukaan aja atau bukan
perubahan fisik semata harapannya bisa terjadi perubahan juga dalam
kelas, misalnya ruang kelas yang semakin memadai untuk proses belajar
dan dilengkapi dengan multimedia, perubahan ini bukan untuk prestise semata
tapi emang didasari dengan niat baik, perubahan ini bukan untuk
sementara dan perubahan ini bisa membuat UNHAS menjadi lebih maju,
semoga... Updet : Ketahuan
deh kalo ternyata koneksi di UNHAS emang abis di upgrade dari speed
256MB ke 2GB, & bakal diupgrade lagi per Desember tahun ini jadi
4GB. Asyik-asyik... Ketahuan juga kalo 'sponsor' ternyata dari dua sumber *Cuma lagi berpikir, kenapa ga sekalian dengan perbaikan fasilitas dalam proses pembelajaran ya??*
Posted at 02:33 pm by nisakalondeng
Permalink
| |
Tuesday, September 19, 2006 |
Adakalanya kita berjumpa dengan seseorang atau hanya dengan berbicara satu dua patah kata saja kita udah bisa langsung simpatik sama orang tersebut. Itu juga yang sempat saya alami kemarin.
Jadi ceritanya nih, karena udah harus ngajar dan mesti balik ke Makassar, maka acara internshipnya diakhiri tgl 9 September. Kenapa diakhiri, karena pembimbing saya sih sebenarnya ga ngasih batas waktu. Mau internship 6 bulan juga silahkan aja. Apalagi dari internship kemarin itu, kami (Saya mewakili institusi saya, Math UNHAS, dan Pembimbing saya mewakili Dept. Statistika IPB) menggalang kerjasama membuat proposal untuk pengajaran matakuliah ”Teknik Pengambilan Sampel’ dengan menggunakan teleconference. Kami masih nunggu kabar apakah proposal itu layak untuk dibiayai dalam project GDLN (Global Development Learning Network) yang ditawarkan DIKTI dan didanai langsung oleh World Bank. Doain ya mudah2an dapat...
Kalo berhasil dapat dana, maka untuk pengajaran matakuliah ini di kedua institusi, dosennya ngajar di IPB sedangkan mahasiswanya di UNHAS, ataupun sebaliknya. Banyak keuntungan yang bisa kami dapat kalo project ini berhasil dapat dana. Wawasan dan pengetahuan mahasiswa kami akan lebih meningkat dan tentu saja dosen pengajar di UNHAS akan termotivasi untuk mengembangkan diri lebih baik dan memberikan yang terbaik. Karena kalo dari segi materi bahan ajar, pada dasarnya staf pengajar dimanapun sama saja, sedangkan jika dilihat dari pengalaman, jelas kami tertinggal jauh
Nah, balik ke inti dari yang mau saya ceritakan tadi, jadilah saya ngambil tiket untuk tanggal 10 September balik ke Makassar. Karena yang berangkat siang penuh, akhirnya dapat yang malam, jam 20.30. Itupun setelah nyari sana sini. Apalagi rencananya mo pulang bareng Kakak yang kebetulan lagi ada tugas juga ke Jakarta.
Tanggal 10 sore, janjian ama Kakak ketemu langsung di Cengkareng aja. Saya berangkat dari Bogor sekitar jam 17.00, sedang Kakak di Jakarta. Rencana ketemu di Cengkareng jam 18.30. Tapi apa daya, saya kena macet total di jalan dan baru nyampe Cengkareng jam 20.00 kurang 3 menit, sedangkan Kakak udah nyampe sesuai jadwal. Padahal sebelumnya udah rencana berangkat dari Bogor lebih cepat, tapi tetaap aja ga bisa karena masih sibuk cari oleh2
Selama nunggu itu, Kakak udah bolak-balik telpon nanyain udah sampai mana, dan karena teman2nya ikut2an khawatir telat kalo nunggu saya, maka Kakak&temannya check-in duluan dan udah dapat boarding, tapi belum masuk ke ruang tunggunya karena nungguin saya (Maaf ya Kakak, adikmu ini bikin cemas aja).
Ya udah, begitu saya nyampe langsung kita masuk untuk check-in. Pikir pasti udah sepi ini (sempat khawatir juga kalo udah tutup), soalnya udah hampir take off. Tapi begitu kita masuk, kok masih rame di counter untuk check-in yang ke Makassar. Ada apa gerangan ? 
(Oh ya, rencananya saya akan terbang dengan LION sesuai dengan tiket saya).
Ternyata setelah tanya ama petugasnya, dan juga calon penumpang yang masih banyak disitu, dapat penjelasan klo terjadi ’over pack’ atau jumlah seat yang tersedia di pesawat kurang dari calon penumpang yang check-in. Jadi itung2 yang tidak kebagian kursi termasuk saya ada sekitar 12 orang. Pihak manajemen LION udah sibuk untuk mencari cara gimana ngatasi hal ini, sementara ada beberapa penumpang yang tidak mau tau dan ngotot harus dapat tempat di pesawat dan sambil ngomel-ngomel gitu nyalahin manajemen LION. Dalam hati saya bisa ngerti kalo orang itu ngomel karena jam 16.00 mereka konfirmasi langsung ke LION yang di bandara dan mendapat kepastian kalo penerbangan 20.30 malamnya pasti dapat seat. Saya dan kakak, serta beberapa penumpang lain hanya terdiam aja dengerin mereka sambil tunggu penyelesaian dari pihak LION, abis mo gimana. Mencak2 pun kejadiannya udah kayak gitu.
Setelah nunggu kurang lebih 1 ½ jam, akhirnya pihak LION nawarin solusi dengan 2 alternatif. Pertama, apakah kami mau terbang besok paginya dengan LION pesawat pertama dan akan diinapkan di hotel bandara dengan tanggungan pihak LION, dan yang kedua berangkat malam ini juga tetapi dengan menggunakan pesawat lain. Kakak tanya saya gimana, karena Kakak udah pasti berangkat malam ini dengan LION karena udah dapat seat duluan. Saya jawab ya udah, saya juga berangkat malam ini dengan pesawat lain, nanti kan masih bisa ketemu di Hasanuddin Airport Makassar. Pokoknya sapa yang nyampe duluan kudu nunggu yang lain, biar yang jemput ga usah bolak-balik bandara. Kan kasian, mana nyampe sana pasti dinihari lagi.
Syukurlah pihak LION transfer penumpang yang mo berangkat malam itu ke pesawat GARUDA, yang notabene lebih bagus dan terkenal dalam pelayanannya (otomatis lebih mahal berkali2 lipat juga). Sementara penumpang yang ngomel2 tadi masih belum berhenti ngomel dan tidak mau menerima solusi yang ditawarkan oleh pihak LION sambil ngancam akan lapor hal ini ke instansi terkait.
Akhirnya saya dan Kakak pun berpisah, Kakak masuk ke Gate-nya, saya dan beberapa penumpang lain nunggu petugas yang akan ngantar kami ke Terminal 2F (LION di Cengkareng dulunya di Terminal 2F juga, tapi karena padatnya terminal itu, karena merupakan terminal untuk Internasional juga, maka sejak Oktober 2005 LION pindah ke Terminal 1A, yang jaraknya cukup jauh).
Selama proses menunggu itulah, saya melihat Ibu ini (sayang ga teringat foto karena adanya masalah itu). Beliau juga terpisah sendiri dari rombongannya. Setelah sempat kenalan, beliau bilang saya boleh manggil dengan Ibu Andi atau Kak Andi.
Kesan pertama yang tertangkap oleh mata, B’Andi ini begitu lembut dan sederhana. Beliau tidak terlalu tinggi, berjilbab besar dan pake kacamata. Setelah sempat ngobrol, kesan yang timbul bertambah. Betapa bersahajanya beliau, tutur katanya begitu halus, begitu sopan dan sikapnya yang tulus tanpa ada kesan dibuat-buat. Seketika itu juga timbul rasa simpatik dan sayang sama B’Andi, seolah2 udah kenal lama, dan seperti bicara dan ngobrol ama keluarga sendiri. Juga ada perasaan ingin melindungi, terlebih waktu tau beliau lama baru berkunjung lagi ke Indonesia. Selama ini beliau dan keluarganya tinggal di salah satu kota di Inggris. Dari obrolan kami baru ketahuan bahwa ternyata beliau juga kenal sama sahabat saya Miya, dan juga juga sahabat dunia maya Mbak Rani di London. Kami terus bersama, di pesawat juga duduknya sebelahan lagi, dan pisah begitu sampai di Makassar, dan setelah beliau di jemput ama keluarganya, sementara saya juga udah dijemput ama ponakan, tapi belum langsung pulang ke rumah karena masih harus tungguin Kakak yang pesawatnya belum nyampe. Kira2 45menit nunggu, pesawat Kakak pun mendarat jam 01.30 dinihari. Semoga suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi ya B’Andi.
Updet :
setelah ngobrol dengan Miya, baru ketahuan kalo B’Andi ini salah satu anak orang terkemuka di Makassar Semakin simpatik saya akan bersahajanya sifat beliau.
Subhanallah, Engkau menciptakan orang seperti itu. Semoga kami dapat mengambil hikmah dari apa yang Engkau tunjukkan kepada kami ini... amien.
Posted at 07:00 pm by nisakalondeng
Permalink
|